Sabtu, 04 Desember 2010

APAKAH ADA DALIL PUASA MUTIH.??

“ Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman: Setiap
amal anak Adam adalah
untuknya kecuali puasa,
sesungguhnya ia untuk-
Ku dan Aku sendiri yang
akan membalasnya,
puasa adalah perisai,
maka apabila salah
seorang dari kalian
berpuasa maka janganlah
ia berkata-kata keji, dan
janganlah berteriak-
teriak, dan janganlah
berperilaku dengan
perilakunya orang-orang
jahil, apabila seseorang
mencelanya atau
menzaliminya maka
hendaknya ia
mengatakan:
Sesungguhnya saya
sedang berpuasa (dua
kali), demi Yang diri
Muhammad ada di
tangan-Nya, sungguh bau
mulut orang yang
berpuasa lebih wangi di
sisi Allah pada hari
kiamat dari wangi
kesturi, dan bagi orang
yang berpuasa ada dua
kebahagiaan yang ia
berbahagia dengan
keduanya, yakni ketika ia
berbuka ia berbahagia
dengan buka puasanya
dan ketika berjumpa
dengan Rabbnya ia
berbahagia dengan
puasanya. ” (HR Bukhari,
Muslim dan yang lainnya)
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam juga
bersabda,
لا يَصُوْمُ عَبْدٌ
يَوْمًا
فِي سَبِيْلِ الله. إلا
بَاعَدَ اللهُ، َ
بِذَلِك
اليَوْمِ، ُ
وَجْهَه ِنَع
ِراَنلا َنْيِعْبَس
ًافْيِرَخ .
“Tidaklah seorang hamba
berpuasa satu hari di
jalan Allah kecuali Allah
akan menjauhkan
wajahnya dari api neraka
(dengan puasa itu) sejauh
70 tahun jarak
perjalanan.” (HR. Bukhari
Muslim dan yang lainnya)
Berpuasa tidak dalam
rangka beribadah kepada
Allah
Semisal seseorang yang
berpuasa karena hendak
mendapatkan bantuan
dari jin/syaitan berupa
sihir atau yang lainnya,
atau bernazar puasa
kepada selain Allah,
maka perbuatan ini
termasuk kesyirikan yang
besar karena
memalingkan ibadah
kepada selain Allah
subhanahu wa ta ’ala.
Adapun seseorang yang
berpuasa semata-mata
karena alasan kesehatan,
walaupun hal ini boleh-
boleh saja akan tetapi ia
keluar dari pengertian
puasa yang syar’i
sehingga tidaklah ia
termasuk orang yang
mendapatkan keutamaan
puasa sebagaimana yang
dijanjikan Allah
subhanahu wa ta ’ala.
Menyelisihi tata cara
Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam, diantaranya:
* Mengkhususkan tata
cara tertentu yang tidak
dituntunkan oleh Nabi
shallalahu ‘alaihi wa
sallam, semisal puasa
mutih (menyengaja
menghindari makan
daging atau yang
lainnya), puasa sehari
semalam tanpa tidur atau
tanpa berbicara dengan
menganggap hal ini
memiliki keutamaan dan
yang lainnya.
* Mengkhususkan waktu
tertentu yang tidak
dikhususkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam semisal
mengkhususkan puasa
pada hari atau bulan
tertentu tanpa dalil dari
al-Qur ’an dan sunnah,
ataupun mengkhususkan
jumlah hari yang tidak
dikhususkan dalam
syariat.
Maka seyogyanya kaum
muslimin menahan diri
dari beribadah tanda
dasar ilmu atau tuntunan
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Sebuah
hadits dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha dia
berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam
bersabda:“Barangsiapa
yang melakukan suatu
amalan yang tidak ada
tuntunannya dari kami
maka tertolak. ” (HR.
Muslim)
Maka berikut ini adalah
beberapa jenis puasa
yang dianjurkan di dalam
Islam di luar puasa yang
wajib (Puasa Ramadhan)
berdasarkan dalil-dalil
yang syar ’i, semoga kita
diberi kemudahan untuk
mengamalkannya
berdasarkan ilmu dan
terhindar dari perkara-
perkara yang menyelisihi
syariat Allah subhanahu
wa ta’ala sehingga kita
dapat memperoleh
berbagai keutamaan dari
apa-apa yang dijanjikan
Allah subhanahu wa
ta ’ala.
Puasa-puasa Sunnah
yang
Dituntunkan Dalam Islam
1. Puasa 6 hari pada bulan
Syawwal
Dari Abu Ayyub Al-
Anshory bahwasanya
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda,
ْنَم َماَص َناَضَمَر. َّمُث
ُهَعَبْتَأ
سِتًّا مِنْ
شَوَّال. َناَك ِماَيِصَك
ِرْهَّدلا
“ Barang siapa berpuasa
Ramadhan, kemudian
melanjutkan dengan
berpuasa enam hari pada
bulan Syawal, maka
seperti ia berpuasa
sepanjang tahun. ” (HR.
Muslim)
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda,
ُماَيِص ِرْهَش َناَضَمَر
ِةرْشَعب ٍرُهْشَأ،
ُماَيِصَو ِةَّتِس ٍماَّيَأ
ُهَدْعَب بِشَهْرين،
َكِلَذَف ُماَيِص
ِةَنَّسلا
“ Puasa pada bulan
Ramadhan seperti
berpuasa sepuluh bulan ,
dan puasa enam hari
setelahnya seperti
berpuasa selama dua
bulan, maka yang
demikian itu (jika
dilakukan) seperti puasa
setahun. ” (Hadits shahih
Riwayat Ahmad)
* Puasa Syawal tidak
boleh dilakukan pada hari
yang dilarang berpuasa di
dalamnya, yakni pada
hari Idul Fitri.
* Puasa tersebut tidak
disyaratkan harus
berurutan, sebagaimana
kemutlakan hadits –
hadits di atas, akan
tetapi lebih utama
bersegera dalam
kebaikan.
* Jika ada kewajiban
mengqodo ’ puasa
Ramadhan maka
dianjurkan mendahulukan
qodo baru kemudian
berpuasa Syawal 6 hari
sebagaimana hadits dari
Abu Ayyub Al-Anshori di
atas.
2. Puasa pada hari Arafah
bagi yang tidak sedang
melaksanakan ibadah haji
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda,
صِيَام يَوْمُِ عَرَفَةَ
أحْتَسِبُ
عَلَى اللهِ أَنْ
يُكَفِّرَ السَّنَةَ
الَّتِي قَبْلَهُ .
َوَالسَّنَة
الّتِي ُهَدْعَب
“ Puasa pada hari Arofah,
aku berharap kepada
Allah agar mengampuni
dosa-dosa setahun yang
telah lalu dan setahun
yang akan datang. ” (HR.
Muslim)
* Adapun bagi orang
yang
sedang melaksanakan
ibadah haji, maka yang
lebih utama adalah tidak
berpuasa pada hari
Arofah sebagaimana yang
diamalkan oleh
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam dan
para shahabatnya.
2 jam yang lalu · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam 3. Puasa pada hari
Asyura ’ (10 Muharrom)
dan sehari sebelumnya
Dari Abu Qotadah
bahwasanya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ُماَيِصَو ِمْوَي
عَاشُورَاء
َ، ُأَحْتَسِب
عَلَى اللهِ
أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ
الَّتِي ُهَلْبَق
“ puasa pada hari
‘Asyuro’, aku berharap
kepada Allah agar
mengampuni dosa-dosa
setahun yang telah
lalu. ” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda,
ْنِئَل ُتْيِقَب إِلَى
قَابِلٍ لأَصُوْمَن
َّ َعِساَتلا
“ Sungguh jika aku masih
hidup sampai tahun
depan aku akan berpuasa
pada hari yang
kesembilan. ” (HR.
Muslim)
* Adapun berpuasa pada
hari yang ke sebelas
maka dalilnya sangat
lemah, sehingga tidak
bisa dijadikan sandaran.
4. Memperbanyak puasa
pada bulan Sya ’ban
Dari ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha, dia berkata:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ
اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَاِسْتَكْمَ
صِيَامَ شَهْرٍ إِلا
رَمَضَانَ،
وَمَا رَأَيْتُهُ
أَكْثَرَ
صِيَامًا مِنْهُ
فِي َناَبْعَش .
“Saya tidak pernah
melihat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berpuasa sebulan
penuh kecuali pada bulan
Ramadhan, dan tidaklah
saya melihat beliau
memperbanyak puasa
dalam suatu bulan seperti
banyaknya beliau
berpuasa pada bulan
sya ’ban.” (HR. Bukhari)
* Adapun
mengkhususkan
puasa atau amalan
lainnya pada nisfu
sya ’ban (pertengahan
sya’ban), maka hal ini
tidak ada tuntunannya
dalam syariat, karena
dalil-dalil yang ada
sangat lemah dan bahkan
ada yang maudhu (palsu).
* Hendaknya tidak
berpuasa pada hari syak
(hari yang meragukan
apakah sudah masuk
ramadhan atau belum),
yakni sehari atau dua
hari pada akhir Sya ’ban,
kecuali bagi seseorang
yang kebetulan
bertepatan dengan puasa
yang biasa dilakukannya
dari puasa-pusa sunnah
yang disyariatkan semisal
puasa dawud atau puasa
senin kamis.
5. Memperbanyak Puasa
Pada Bulan Muharrom
Berdasarkan hadits dari
Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ُلَضْفأ ِماَيِّصلا،
َدْعَب َناَضَمَر، ُ
شَهْر
اللهِ َّرَحُمْلاُم َو
ُلَضْفأ ِةالَّصلا َدْعَب
َضْيِرَفلاِة ُةالَص
ِلْيَللا
“ Puasa yang paling
utama
setelah puasa Ramadhan
adalah puasa pada bulan
Allah yakni bulan
Muharrom, dan shalat
yang paling utama
setelah shalat fardhu
adalah shalat
malam. ” (HR. Muslim)6.
Puasa Hari Senin dan
Kamis
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda:
ُضَرْعُت
ُالأَعْمَال يَوْمَ
ِالاثْنَيْن
ْسِوَالْخَمِي
فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ
عَمَلِي
وَأَنَا ٌمِئاَص
“ Amal-amal ditampakkan
pada hari senin dan
kamis, maka aku suka
jika ditampakkan amalku
dan aku dalam keadaan
berpuasa. ” (Shahih,
riwayat An-Nasa’i)
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam pernah
ditanya tentang puasa
pada hari senin, beliau
bersabda:
َكاَذ ٌمْوَي ُتْدِلُو
ِهْيِف . ٌمْوَيَو ُتْثِعُب
)ْأَو َلِزْنَأ َّيَلَع
ِهْيِف )
“Ia adalah hari ketika
aku dilahirkan dan hari
ketika aku diutus (atau
diturunkan (wahyu)
kepadaku ). ” (HR.
Muslim)
7. Puasa 3 hari setiap
bulan
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu dia
berkata,
أوْصَانِى خَلِيْلِى
صَلَّى الله عَلَيْهُِ
وَسَلَّمَ بِثَلاثٍ:
صِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ
مِنْ كُلِّ شَهْرٍ،
ىوَرَكْعَتَ الضُحَى ،
ْنَأَو َرتْوَأ َلْبَق ْنَأ
َماَنَأ
“ Kekasihku, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam Mewasiatkan
kepadaku tiga perkara:
puasa tiga hari setiap
bulan, dua rakaat shalat
dhuha, dan shalat witir
sebelum tidur. ” (HR.
Bukhari Muslim)
Lebih dianjurkan untuk
berpuasa pada hari baidh
yakni tanggal 13, 14 dan
15 bulan Islam
(Qomariyah).
Berdasarkan perkataan
salah seorang sahabat
radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata:
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى الله عَلَيْهُِ
وَسَلَّمَ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ
الشَّهْر ثَلاثَةَِ أَيَّامِ
البَيْضِ: ثَلاثَ
عَشْرَةَ، َو أَرْبَعَ
عَشْرَةَ ، َ وَخَمْس
عَشْرَةَ
“ Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam
memerintahkan kami
untuk berpuasa pada tiga
hari ‘baidh’: tanggal 13,
14 dan 15.” (Hadits Hasan,
dikeluarkan oleh An-
nasa ’i dan yang lainnya)
8. Berpuasa Sehari dan
Berbuka Sehari (Puasa
Dawud ‘alaihis salam)
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda:
ُّبَحأ ِماَيِّصلا
إلى اللهِ
صِيَامُ دَاوُدَ، ُّ
وَأحَب
الصَّلاةِ إِلَى اللهِ
صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ
نِصْفَ الليل، ُ
وَيَقُوم
ثُلُثَهُ وَيَنَامُ
سُدُسَهُ، َ
وَكَان يُفْطِرُ
يَوْمًا وَيَصُوْمُ
يَوْمًا
(متفق عليه )
“Puasa yang paling
disukai Allah adalah
puasa Nabi Dawud, dan
shalat yang paling disukai
Allah adalah Shalat Nabi
Dawud, adalah beliau
biasa tidur separuh
malam, dan bangun pada
sepertiganya, dan tidur
pada seperenamnya,
adalah beliau berbuka
sehari dan berpuasa
sehari. ” (Muttafaqun
‘alaihi)
Beberapa Hal yang
Terkait Dengan Puasa
Sunnah
* Boleh berniat puasa
sunnah setelah terbit
fajar jika belum makan,
dan minum serta tidak
melakukan hal-hal yang
membatalkan puasa,
berbeda dengan puasa
wajib maka niatnya harus
dilakukan sebelum fajar.
* Seseorang yang
berpuasa sunnah
diperbolehkan
membatalkan puasanya
jika ia menghendaki, dan
tidak ada qodho atasnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha dia berkata:
َلَخَد َّيَلَع ُلْوُسَر
ِهللا صَلَّى
الله عَلَيْهُِ
وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ
فَقَالَ:( هَلْ عِنْدَكُمْ
شَيْءٌ ؟ ) فَقُلْنَا:
لا.
قَالَ: ( فَإِنِى إِذًا
صَائِمٌ ) ، َّ ثُم
أَتَانَا
يَوْمًا آخَر.
فَقُلْنَا: يَا
رَسُوْلَ اللهِ أُهْدِيَ
لَنَا
حَيْسٌ . فَقَالَ:
( أَرينيْهِ، ْفَلَقَد
أَصْبَحْتُ صَائِمًا )
فَأَكَلَ. (رواه مسلم )
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam suatu
hari datang kepadaku
kemudian berkata:
“ Apakah engkau memiliki
sesuatu (dari
makanan )?”, kemudian
kami berkata: “tidak”,
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda: “Kalau begitu
saya berpuasa”,
kemudian Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam datang pada hari
yang lain kemudian kami
katakan: “Wahai
Rasulullah sesungguhnya
kami dihadiahi haisun
(kurma yang dicampur
minyak dan susu yang
dihaluskan), maka
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam
bersabda: “Bawalah
kemari, sesungguhnya
aku tadi berpuasa ”,
kemudian beliau
memakannya (HR.
Muslim)
* Seorang istri tidak
boleh berpuasa sunnah
sedangkan suaminya
bersamanya kecuali
dengan seijin suaminya
Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam
bersabda:
لا تَصُوْمُ
الْمَرْأَة
ُ اوَبَعْلُهَ شَاهِدٌ
إِلا
بِإِذْنِهِ
“ Janganlah seorang
wanita berpuasa
sedangkan suaminya
menyaksikannya kecuali
dengan seizinnya. ” (HR.
Bukhari Muslim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar